Logo Kudus
Irgi
Irgi
Atlet Atletik

Irgi Candra Pranata

Usia 18 Tahun

Disiplin Membawa Irgi Candra Pranata Menapaki Lintasan Prestasi Atletik

KUDUS – Di lintasan lari, kemenangan memang sering ditentukan hanya dalam hitungan detik. Seorang pelari melintasi garis finis, catatan waktu tercipta, lalu perlombaan usai. Namun, yang tak terlihat adalah perjalanan panjang sebelum momen itu datang. Ada latihan yang dijalani berulang setiap hari, disiplin yang terus dijaga, serta dukungan keluarga dan pelatih yang menjadi pijakan di balik setiap langkah menuju garis akhir.

Irgi Candra Pranata, Atlet asal Kudus, Jawa Tengah. (Foto: HNR/mainkekudus)

Perjalanan seperti itulah yang sedang dijalani Irgi Candra Pranata. Atlet muda asal Kudus ini menapaki jalur prestasi melalui proses pembinaan yang panjang dan konsisten. Dari seorang remaja yang semula lebih akrab dengan sepak bola, Irgi menemukan jalannya di lintasan atletik. Sejak itu, setiap sesi latihan menjadi bagian dari upayanya mengejar mimpi yang lebih besar. Baginya, medali bukan sekadar simbol kemenangan, melainkan buah dari disiplin, ketekunan, dan karakter yang ditempa dari hari ke hari.

Prestasi yang diraih Irgi tidak hadir dalam satu perlombaan saja, melainkan terkumpul melalui proses yang berlangsung dari waktu ke waktu. Ia menjadi bagian dari tim Jawa Tengah yang meraih medali emas nomor estafet 4 x 400 meter pada POPNAS 2025. Pada Kejuaraan Nasional Atletik Indonesia Open 2026 di Jakarta, Irgi kembali naik podium dengan membawa pulang dua medali sekaligus, yakni medali emas pada nomor estafet 4 x 400 meter mixed U-20 dan medali perunggu pada nomor lari 400 meter putra U-20 dengan catatan waktu 48,60 detik. Rangkaian pencapaian tersebut melengkapi penampilannya yang konsisten di berbagai ajang, termasuk MilkLife Athletics Challenge 2025, sekaligus menunjukkan perkembangan yang terus ia bangun melalui latihan dan pembinaan yang berkesinambungan.

(Sumber foto: IG KONI Kudus & PASI Kudus)

Di balik deretan prestasi itu, ada rutinitas yang sudah menjadi bagian dari kesehariannya. Ketika fajar belum benar-benar menyingsing dan sebagian besar orang masih terlelap, Irgi sudah bangun pukul 04.00 WIB untuk menunaikan salat Subuh. Sekitar satu jam kemudian, ia telah berada di lintasan atletik menjalani latihan pagi yang berlangsung hingga pukul 08.00 WIB.

Rutinitas tersebut tidak hanya dilakukan menjelang perlombaan. Latihan menjadi bagian dari pola hidup yang dijalani setiap hari. Seusai berlatih, Irgi bersiap berangkat ke sekolah. Sore harinya, ia kembali ke lintasan untuk menyelesaikan sesi latihan berikutnya sebelum mengakhiri aktivitas lebih awal agar tubuhnya memiliki waktu istirahat yang cukup untuk menghadapi latihan esok pagi.

Kebiasaan yang dijalani secara konsisten itu perlahan membentuk fondasi perjalanan Irgi sebagai atlet. Setiap pagi yang dimulai sebelum matahari terbit, setiap putaran lintasan yang diselesaikan, dan setiap keputusan menjaga disiplin menjadi bagian dari proses yang membawanya berkembang. Dari lintasan atletik di Kudus, langkah demi langkah mengantarkannya bersaing di berbagai kejuaraan nasional, membuktikan bahwa prestasi tidak lahir dalam semalam, melainkan tumbuh dari kebiasaan yang terus dijaga setiap hari.

Dari Lapangan Sepak Bola ke Lintasan Atletik

Mimpinya menjadi atlet sepak bola, tapi Irgi Candra Pranata memilih atletik karena menemukan tantangan yang berbeda dibanding olahraga lain. (Foto: HNR/mainkekudus)

Tidak banyak yang mengetahui bahwa atletik bukanlah olahraga pertama yang menarik perhatian Irgi. Ketika masih duduk di bangku kelas IX SMP, ia justru lebih menyukai sepak bola dibandingkan berlari di lintasan.

Kesempatan mengikuti seleksi atletik menjadi titik balik yang perlahan mengubah arah hidupnya.

“Awalnya mengenal atletik waktu kelas IX SMP. Dulu belum minat, maunya main bola. Lama-lama jadi suka,” tutur Irgi.

Perubahan itu tidak terjadi dalam semalam. Ketertarikan terhadap atletik tumbuh seiring latihan yang dijalani secara rutin. Dari aktivitas yang semula terasa sebagai kewajiban, latihan perlahan berubah menjadi kebutuhan.

Tantangan terbesar buat Irgi adalah dirinya sendiri. (Foto: HNR/mainkekudus)

Menurutnya, tantangan terbesar bukan berasal dari lawan yang dihadapi saat bertanding, melainkan dari dirinya sendiri.

“Tantangan terbesar latihan itu mental. Dulu kalau mau latihan masih malas-malasan, tapi sekarang kalau tidak latihan rasanya ada yang kurang,” ujarnya.

Membagi Waktu Antara Sekolah dan Latihan

Irgi bersyukur iklim olahraga di Kudus, memberikan ruang bertumbuh bagi atlet muda. (Foto: HNR/mainkekudus)

Sebagai siswa SMA Negeri 2 Bae Kudus, Irgi harus membagi waktu antara pendidikan dan olahraga. Jadwal latihan yang padat tidak membuatnya meninggalkan sekolah. Sebaliknya, sekolah memberikan penyesuaian jadwal agar proses belajar tetap berjalan berdampingan dengan program pembinaan atlet.

Pada hari-hari tertentu, latihan dimulai pukul 05.00 WIB hingga 08.00 WIB. Setelah itu ia baru berangkat ke sekolah. Sore harinya, latihan kembali berlangsung hingga sekitar pukul 18.00 WIB. Apabila tidak ada kegiatan di Supersoccer Arena, ia berlatih di fasilitas tersebut bersama pelatihnya.

Disiplin membawa Irgi melangkah dari satu jenjang kompetisi ke jenjang kompetisi berikutnya. (Foto: HNR/mainkekudus)

Dalam satu pekan, Irgi menjalani latihan sebanyak 12 kali. Hari Senin dimanfaatkan sebagai waktu pemulihan. Materi latihan pun disusun bergantian, mulai dari latihan kecepatan nomor 100 hingga 400 meter, sampai latihan ketahanan dengan jarak 3.000–5.000 meter.

Setelah sesi latihan selesai, ia masih harus menjalani pendinginan selama sekitar 30 menit sebelum kembali beraktivitas. Bagi Irgi, disiplin tidak berhenti ketika latihan berakhir, tetapi berlanjut hingga proses pemulihan.

Prestasi Lahir dari Proses

Buat Irgi latihan jadi kebutuhan dirinya untuk terus berkembang. (Foto: HNR/mainkekudus)

Latihan yang dilakukan secara konsisten mulai membuahkan hasil. Irgi berhasil menjuarai Pekan Olahraga Pelajar Nasional (Popnas), kemudian kembali meraih prestasi pada Kejuaraan Nasional Atletik Junior.

Pengalaman tersebut menjadi momen yang paling membekas dalam perjalanan karirnya sejauh ini.

“Yang paling berkesan itu tahun kemarin ikut Popnas dan juara satu. Minggu lalu juga ikut Kejurnas lagi. Itu pengalaman yang tidak akan saya lupakan,” katanya.

Prestasi itu menambah daftar pencapaiannya setelah sebelumnya menjadi juara di tingkat Popda Kudus, Jawa Tengah, hingga mampu bersaing pada level nasional kategori junior dan U-20.

Cedera Tidak Menghentikan Langkah

Cedera yang dialami bukan halangan untuk bangkit. (Foto: HNR/mainkekudus)

Perjalanan menuju podium tidak selalu berjalan mulus. Cedera beberapa kali datang ketika Irgi sedang mempersiapkan diri menghadapi kejuaraan penting.

Pada Kejuaraan Nasional 2025 di Solo, otot betisnya mengalami cedera hanya dua hari sebelum perlombaan dimulai. Kondisi tersebut membuat target yang telah disusun bersama pelatih terasa semakin berat.

Meski demikian, ia tetap turun bertanding dan berhasil meraih posisi kedua.

Cobaan serupa kembali terjadi ketika mengikuti Kejuaraan Nasional di Jakarta. Kali ini cedera menyerang ibu jari kaki. Rasa sakit harus ditahan sepanjang perlombaan, tetapi ia tetap mampu menyelesaikan lomba dan meraih gelar juara.

Dorongan terbesar untuk bangkit buat Irgi selain keluarga datang dari pelatih. (Foto: HNR/mainkekudus)

Menurut Irgi, dorongan terbesar untuk bangkit datang dari pelatih yang terus mengingatkan agar perjuangan yang sudah dilakukan tidak berhenti di tengah jalan.

“Yang membuat saya bangkit motivasi dari pelatih karena sudah jauh-jauh ke Jakarta,” ujarnya.

Disiplin Berlanjut di Luar Lintasan

Buat Irgi menjadi atlet berarti menjaga disiplin. (Foto: HNR/mainkekudus)

Bagi Irgi, menjadi atlet berarti menjaga kebiasaan sehari-hari. Ia memilih tidak bermain gim agar waktu tidurnya tetap terjaga. Hobi bermain sepak bola pun mulai dikurangi untuk menghindari risiko cedera, sementara hari libur dimanfaatkan bermain bola voli sebagai aktivitas ringan.

Pola makan juga dijalani secara disiplin. Telur rebus dan ayam menjadi menu yang hampir selalu hadir setiap hari sebagai sumber protein. Sebaliknya, makanan cepat saji, mi instan, gorengan, dan sambal dihindari sesuai arahan pelatih.

Disiplin tersebut bahkan membuatnya pernah menangis ketika gagal menyelesaikan program latihan.

“Kalau latihan berat pernah menangis kalau program saya nggak habis, soalnya kecewa juga dengan diri saya sendiri,” katanya.

Di balik keseriusan itu, Irgi tetap menjalani kehidupan layaknya remaja. Ia senang bercanda bersama teman-temannya dan memilih pulang sekitar pukul 21.00 WIB agar waktu istirahat tidak terganggu.

Ada satu prinsip yang selalu dipegang dalam menjalani perjalanan sebagai atlet.

“Tetaplah rendah hati, jangan sombong.”

Dukungan yang Membentuk Perjalanan

Di balik perkembangan Irgi, terdapat peran besar keluarga dan pelatih. Orang tuanya terus memberikan dukungan, mulai dari memenuhi kebutuhan perlengkapan latihan hingga mengantar mengikuti berbagai kejuaraan.

Ibunya, Isnawati, mengaku menyaksikan sendiri perubahan putranya dari seorang anak yang semula harus diingatkan untuk berlatih menjadi sosok yang merasa ada yang kurang jika sehari tidak datang ke lintasan.

Harapan keluarga sederhana, yakni agar Irgi tetap sehat, disiplin, rendah hati, dan suatu hari mampu mengharumkan nama Indonesia.

Perjalanan itu juga tidak lepas dari peran Noor Akhmad, pelatih sekaligus pengurus Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PASI) Kudus. Noor pertama kali melihat potensi Irgi ketika masih duduk di kelas VII SMP Negeri 1 Dawe. Melihat postur tubuh dan kemampuan fisiknya, Noor mengajak Irgi bergabung dalam ekstrakurikuler atletik sebelum kemudian merekomendasikannya masuk Atletik Sportif Klub Kudus.

Noor Akhmad, pelatih dan pengurus PASI Kudus. (Foto: HNR/mainkekudus)

Menurut Noor, tantangan terbesar dalam membina atlet muda bukan hanya meningkatkan kemampuan teknik, tetapi juga membentuk karakter, kedisiplinan, dan pola hidup yang mendukung prestasi. Ia terus mengingatkan pentingnya menjaga waktu istirahat, mengurangi penggunaan telepon genggam, dan menjalani latihan secara konsisten.

Tumbuh Bersama Ekosistem Atletik Kudus

Irgi menilai Kudus memberikan ruang yang baik bagi atlet muda untuk berkembang. Kehadiran berbagai program pembinaan, termasuk yang dijalankan Bakti Olahraga Djarum Foundation, serta aktivitas klub-klub atletik di daerah membuka kesempatan bagi generasi muda untuk mengenal olahraga atletik sejak usia dini.

Noor juga melihat kompetisi yang semakin rutin digelar membantu proses regenerasi atlet. Melalui pembinaan berjenjang di klub-klub seperti Atletik Sportif Klub Kudus, Rajawali, dan Ababil, bibit-bibit potensial lebih mudah ditemukan dan diarahkan menuju jenjang yang lebih tinggi.

Noor Akhmad, pelatih dan pengurus PASI Kudus. (Foto: HNR/mainkekudus)

Perjalanan Irgi masih panjang. Ia menargetkan dapat menembus limit Pekan Olahraga Nasional (PON), bergabung dengan pemusatan latihan nasional, hingga suatu saat tampil di ajang internasional.

Langkah Irgi menuju mimpi, dimulai sejak ia memutuskan untuk tetap datang ke lintasan setiap hari. (Foto: HNR/mainkekudus)

Mimpi itu belum selesai. Namun, setiap langkah yang ia tempuh hari ini menunjukkan bahwa prestasi tidak lahir hanya dari bakat. Ia tumbuh dari kebiasaan yang dilakukan berulang-ulang, dari keberanian bangkit setelah cedera, dari dukungan keluarga dan pelatih, serta dari disiplin menjaga hal-hal kecil yang sering kali tidak terlihat ketika seorang atlet berdiri di podium.

Bagi Irgi Candra Pranata, garis finis bukanlah akhir perjalanan. Setiap kali perlombaan usai, selalu ada lintasan baru yang menunggu untuk kembali ditaklukkan. (ITN/mainkekudus)

PROFIL ATLET LAINNYA

Asyifa Sholawa Farizqi

Asyifa Sholawa Farizqi

Della Citra Ayu

Della Citra Ayu

Muhammad Daffa Nugraha

Muhammad Daffa Nugraha