

Ingin Mencoba Trekking di Muria? Kenali Jalur Favorit Pendaki Pemula
KUDUS – Pegunungan Muria tidak hanya dikenal sebagai kawasan dengan bentang alam yang hijau. Dalam beberapa tahun terakhir, kawasan ini juga semakin ramai dikunjungi masyarakat yang ingin berolahraga sambil menikmati suasana pegunungan. Aktivitas trekking kini menjadi pilihan untuk mengisi waktu luang sekaligus menjaga kebugaran tubuh.
Di Kudus, dua jalur yang paling banyak dipilih pendaki adalah Puncak 29 atau Songolikur dan Puncak Natas Angin. Keduanya menawarkan pengalaman berjalan kaki di jalur pegunungan dengan karakter medan yang berbeda. Bagi sebagian orang, perjalanan menuju puncak bukan semata mengejar panorama, tetapi juga menjadi cara melatih daya tahan tubuh, mengurangi penat, dan menikmati alam secara langsung.
Trekking sendiri merupakan olahraga luar ruang yang melibatkan hampir seluruh bagian tubuh. Saat berjalan menanjak, tubuh bekerja lebih keras untuk menjaga keseimbangan, memperkuat otot kaki, meningkatkan kemampuan jantung dan paru-paru, sekaligus melatih daya tahan fisik. Aktivitas ini menjadi alternatif olahraga yang memadukan tantangan alam dengan manfaat kebugaran.
Puncak 29 Menjadi Titik Awal Pendaki Pemula

Bagi mereka yang baru pertama kali mencoba mendaki, Puncak 29 di Desa Rahtawu menjadi salah satu tujuan yang sering direkomendasikan. Jalur menuju puncak dinilai masih dapat diikuti oleh pendaki pemula meskipun tetap membutuhkan kesiapan fisik.
Petugas pendakian Puncak 29, Agus Setyawan, menjelaskan bahwa sebagian besar rute melewati kebun kopi milik warga. Jalur tersebut berupa jalan setapak dengan tanjakan yang cukup panjang sebelum memasuki area bebatuan menjelang puncak.

“Jalur trekking cukup menyusuri kebun kopi masyarakat, melewati jalur setapak tanjakan curam. Mendekati puncak, jalurnya ekstrem curam dan bebatuan. Untuk waktu tempuh dari Desa Rahtawu sekitar empat sampai lima jam, tergantung kondisi fisik pendaki,” ujarnya.
Perjalanan menuju Puncak 29 memiliki panjang lintasan sekitar lima kilometer dari basecamp atau sekitar 10 kilometer untuk perjalanan pulang-pergi. Meski jaraknya lebih panjang dibanding Natas Angin, karakter jalurnya cenderung bertahap sehingga banyak dipilih sebagai medan latihan bagi pendaki yang baru mengenal aktivitas trekking. Estimasi perjalanan pulang-pergi umumnya berkisar lima hingga enam jam, bergantung pada kondisi fisik, cuaca, dan waktu beristirahat di setiap pos.
Persiapan Menjadi Kunci Keselamatan
Sebelum memulai perjalanan, Agus Setyawan mengingatkan bahwa kondisi fisik dan kelengkapan peralatan merupakan bekal utama yang tidak boleh diabaikan. Menurutnya, keinginan mencapai puncak sering kali membuat sebagian pendaki, terutama pemula, kurang memperhatikan persiapan dasar.
“Jadi kami sarankan sebelum naik, cek kondisi fisik dan perbekalan. Trek menuju puncak itu ekstrem, jadi diharapkan berhati-hati dan melengkapi peralatan. Kalau bisa mendaki jangan sendirian,” tegasnya.
Bagi pendaki yang baru pertama kali menjelajahi Puncak 29 maupun Puncak Natas Angin, persiapan tidak hanya dimulai ketika menginjak jalur pendakian. Kondisi tubuh sebaiknya sudah dipersiapkan sejak beberapa hari sebelumnya melalui istirahat yang cukup dan latihan fisik ringan agar stamina tetap terjaga saat menghadapi tanjakan serta perubahan elevasi di sepanjang perjalanan.
Waktu keberangkatan juga layak diperhitungkan. Pendakian pada pagi hari menjadi pilihan bagi mereka yang ingin melakukan perjalanan pulang-pergi (tektok), sedangkan keberangkatan sekitar pukul 13.00–14.00 WIB dapat dipilih oleh pendaki yang ingin menikmati panorama matahari terbenam dari puncak.
Perlengkapan yang dibawa sama pentingnya dengan kesiapan fisik. Sepatu gunung dengan daya cengkram yang baik, pakaian berlapis (layering), jas hujan, lampu kepala (headlamp), serta perlengkapan pertolongan pertama menjadi perlengkapan dasar yang membantu mengantisipasi perubahan cuaca maupun kondisi darurat di jalur pendakian.
Kebutuhan logistik juga perlu direncanakan sejak awal. Air minum sedikitnya dua hingga tiga liter per orang dan makanan berkalori tinggi menjadi bekal yang dianjurkan selama perjalanan. Persediaan air dapat diisi kembali di Pos 5, yang menjadi titik terakhir sumber air sebelum jalur menuju Puncak 29 maupun Puncak Natas Angin.
Selama berada di jalur, keselamatan tetap menjadi prioritas. Pendakian lebih aman dilakukan secara berkelompok karena memudahkan koordinasi apabila terjadi keadaan darurat. Pendaki juga dianjurkan tetap berada di jalur resmi, mengatur ritme langkah sesuai kemampuan tubuh, serta beristirahat secukupnya di setiap pos tanpa memaksakan diri ketika kondisi fisik mulai menurun.
Kondisi cuaca juga menjadi faktor yang perlu dipertimbangkan sebelum mendaki. Musim kemarau, terutama pada Mei hingga September, umumnya menghadirkan jalur yang lebih kering sehingga lebih nyaman dilalui dibandingkan musim hujan yang membuat trek menjadi licin. Sebelum berangkat, pendaki juga sebaiknya menyiapkan uang tunai secukupnya karena pembayaran retribusi, parkir kendaraan, hingga transaksi di warung sepanjang jalur masih dilakukan secara tunai.
Di atas seluruh persiapan tersebut, menjaga kelestarian alam tetap menjadi tanggung jawab setiap pendaki. Membawa turun kembali seluruh sampah, tidak merusak vegetasi, tidak menyalakan api sembarangan, serta menghormati masyarakat dan budaya lokal di Desa Wisata Rahtawu merupakan bagian dari etika pendakian yang perlu dijaga bersama agar keindahan Pegunungan Muria tetap dapat dinikmati oleh generasi berikutnya.
Antusiasme Pendaki Terus Berdatangan

Minat masyarakat menjelajahi jalur pendakian di Pegunungan Muria terus terlihat, terutama pada akhir pekan dan musim libur. Pendaki tidak hanya berasal dari Kudus, tetapi juga dari berbagai daerah di Jawa Tengah hingga luar provinsi yang ingin menikmati pengalaman trekking di kawasan ini.
Petugas pendakian Puncak 29, Agus Setyawan, mencatat jumlah pendaki pada hari libur umumnya mencapai lebih dari 100 orang. Ketika musim pendakian sedang ramai, jumlah tersebut bahkan dapat menembus sekitar 400 orang dalam sehari.
Perjalanan menuju puncak tidak hanya menawarkan tantangan fisik, tetapi juga suguhan panorama pegunungan. Dari Puncak 29, pendaki dapat menyaksikan deretan puncak lain di Pegunungan Muria, seperti Palu Ombo, Abiyoso, Tunggangan, hingga Natas Angin. Pemandangan inilah yang kerap menjadi alasan banyak pendaki kembali menapaki jalur yang sama pada kesempatan berikutnya.
Di balik keindahan tersebut, ada hal lain yang perlu diperhatikan, yakni konektivitas komunikasi selama perjalanan. Sinyal telepon seluler umumnya masih stabil di kawasan Desa Wisata Rahtawu hingga Pos 1. Memasuki Pos 2, kualitas jaringan mulai berkurang dan hanya dapat diakses di beberapa titik terbuka. Setelah jalur memasuki kawasan hutan yang lebih rapat menuju Pos 3 hingga Pos 4, sinyal sebagian besar operator seluler biasanya hilang. Di area Puncak 29 maupun Natas Angin, jaringan terkadang masih dapat ditangkap di beberapa lokasi terbuka, tetapi tidak cukup stabil untuk diandalkan sebagai sarana komunikasi utama. Karena itu, pendaki disarankan memberi kabar kepada keluarga atau rekan sebelum memulai pendakian serta tidak bergantung sepenuhnya pada jaringan seluler selama berada di jalur.
Musim dan Keselamatan Menentukan Kenyamanan
Musim kemarau, terutama pada Mei hingga September, umumnya menjadi waktu yang disarankan untuk mendaki Pegunungan Muria. Pada periode tersebut, kondisi jalur cenderung lebih kering sehingga risiko terpeleset lebih kecil. Sebaliknya, saat musim hujan, permukaan tanah menjadi lebih licin, kabut lebih cepat turun, dan jarak pandang dapat berkurang sehingga pendaki perlu meningkatkan kewaspadaan selama perjalanan.
Selain memperhatikan kondisi cuaca, pendaki juga dianjurkan mengutamakan keselamatan dengan tidak melakukan pendakian seorang diri. Berjalan bersama kelompok, tetap berada di jalur resmi, membawa turun seluruh sampah, serta menghormati adat dan masyarakat Desa Wisata Rahtawu merupakan bagian dari etika pendakian yang terus disosialisasikan oleh pengelola kawasan untuk menjaga keamanan sekaligus kelestarian lingkungan.
Sebelum memulai pendakian, calon pendaki juga perlu menyiapkan biaya registrasi dan parkir kendaraan. Pendakian menuju Puncak 29 maupun Puncak Natas Angin melalui Desa Wisata Rahtawu dikenai retribusi masuk desa sebesar Rp3.000 per orang dan biaya registrasi pendakian atau SIMAKSI sebesar Rp5.000 per orang. Tarif parkir kendaraan berkisar Rp10.000 untuk sepeda motor dan Rp20.000 untuk mobil bagi pendaki yang menginap, sedangkan pendaki yang melakukan perjalanan pulang-pergi (tektok) umumnya dikenai tarif parkir yang lebih rendah. Dengan komponen tersebut, total biaya registrasi dan parkir berkisar antara Rp11.000 hingga Rp28.000, bergantung pada jalur yang dipilih serta jenis kendaraan yang digunakan. Seluruh retribusi dikelola oleh pengelola Desa Wisata Rahtawu sebagai bagian dari pengelolaan kawasan pendakian.
Pendaki juga disarankan menyiapkan uang tunai secukupnya sebelum memasuki kawasan pendakian. Retribusi di pintu masuk desa, registrasi pendakian, biaya parkir, hingga transaksi di warung sepanjang jalur masih dilakukan secara tunai sehingga ketersediaan uang tunai akan memudahkan kebutuhan selama perjalanan.
Medan Berbeda, Tantangan Berbeda
Anggota Komunitas Universitas Natas Angin (Untas) sekaligus anggota Asosiasi Lari Trail Indonesia (ALTI), Saka Rizki, menilai jalur di Muria dapat menjadi tempat belajar bagi masyarakat yang ingin mengenal olahraga trekking.

“Tipsnya, jangan menyepelekan gunung. Bagi pemula, medan berpasir atau tanah di Puncak 29 atau Natas Angin ini sangat cocok untuk latihan awal. Mendaki itu olahraga yang melatih kardio dan otot kaki. Persiapkan medical kit untuk penanganan darurat dan pelajari tutorial pendakian yang aman,” katanya.
Menurut Saka, kesiapan fisik harus berjalan beriringan dengan kesiapan mental. Selain memahami kemampuan diri, setiap pendaki juga perlu menjaga kebersihan jalur dengan membawa turun kembali seluruh sampah yang dihasilkan selama perjalanan.
Setiap Jalur Memiliki Karakter Berbeda
Bagi pencinta kegiatan luar ruang, Pegunungan Muria menawarkan beberapa pilihan jalur dengan karakter yang berbeda. Dua rute yang paling dikenal ialah Puncak 29 (Songolikur) dan Puncak Natas Angin, yang sama-sama dapat diakses melalui Desa Wisata Rahtawu.
Puncak 29 memiliki jalur sekitar lima kilometer untuk sekali pendakian atau sekitar sepuluh kilometer pulang-pergi. Waktu tempuh rata-rata menuju puncak berkisar tiga hingga empat jam, sedangkan perjalanan turun sekitar dua jam sehingga keseluruhan perjalanan membutuhkan waktu sekitar lima hingga enam jam, bergantung pada kondisi fisik, cuaca, dan lama istirahat di setiap pos.
Karakter jalur Puncak 29 relatif lebih landai pada bagian awal sehingga ritme langkah lebih mudah dijaga. Medan kemudian berubah menjadi tanjakan yang lebih menantang menjelang kawasan puncak. Jalur yang didominasi vegetasi rapat membuat suasana pendakian terasa teduh dan cocok bagi pendaki yang ingin melatih ketahanan fisik secara bertahap.
Berbeda dengan itu, jalur menuju Puncak Natas Angin memiliki panjang lintasan sekitar 3,7 kilometer menuju puncak. Meski lebih pendek, rute ini didominasi tanjakan curam, termasuk melewati Jalur Naga yang dikenal memiliki kemiringan tinggi dengan beberapa titik berupa punggungan sempit dan batuan cadas. Pendakian menuju Natas Angin umumnya membutuhkan waktu sekitar tiga hingga empat jam dengan total perjalanan pulang-pergi sekitar lima setengah hingga enam setengah jam.
Perbedaan karakter tersebut membuat setiap jalur memiliki daya tarik tersendiri. Puncak 29 lebih sesuai bagi pendaki yang ingin menikmati perjalanan dengan ritme stabil, sedangkan Natas Angin lebih banyak dipilih mereka yang mencari tantangan teknis.
Guide lokal Muria, Jaelani, menjelaskan bahwa Puncak 29 dan Natas Angin memiliki tingkat tantangan yang tidak sama sehingga pendaki perlu menyesuaikan tujuan dengan kemampuan masing-masing.

“Natas Angin medannya lebih tinggi dengan kemiringan hampir 45 derajat ke atas, sedangkan Puncak 29 lebih bervariasi antara jalur datar dan tanjakan. Soal cuaca, kami selalu berkoordinasi dengan warga lokal di setiap pos untuk memantau situasi,” jelas Jaelani.
Pemantauan cuaca juga menjadi bagian penting sebelum pendaki memasuki jalur. Kondisi hujan dapat membuat permukaan tanah menjadi licin sehingga membutuhkan kewaspadaan lebih tinggi, terutama ketika melintasi jalur berbatu maupun punggungan terbuka.
Pengalaman Pertama yang Meninggalkan Kesan
Semangat mencoba pengalaman baru juga dirasakan Muhamad Dafin Setiawan, mahasiswa Universitas Muria Kudus (UMK). Ia mengaku tertarik mendaki setelah melihat banyak temannya mulai menjelajahi jalur di Pegunungan Muria.

Pendakian pertamanya memberikan tantangan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Jalur menanjak hingga menuju Pos 3 membuat tenaga cepat terkuras, tetapi pengalaman tersebut justru menjadi bagian yang paling diingat.
“Ini pertama kali saya mendaki. Tertarik karena melihat banyaknya antusiasme teman-teman. Kesannya capek, tapi seru. Jalurnya cukup ekstrem bagi pemula seperti saya, apalagi menuju Pos 3,” ungkap Dafin.
Pengalaman seperti yang dialami Dafin menjadi gambaran bahwa pendakian tidak selalu tentang kecepatan mencapai puncak. Setiap perjalanan menghadirkan proses belajar mengenali kemampuan diri sekaligus membangun kepercayaan diri menghadapi medan yang menantang.
Menjaga Jalur Tetap Aman dan Lestari
Meningkatnya jumlah pendaki di Pegunungan Muria diikuti dengan upaya pengelola menjaga keselamatan dan kelestarian kawasan. Kepala Resort Pemangkuan Hutan (KRPH) Ternadi, Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Muria Pati Ayam, Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Pati, Teguh Jumadi Yanto, mengatakan aturan pendakian terus diterapkan agar aktivitas wisata tetap berjalan dengan baik.

“Aturan kami jelas, tidak boleh membuang sampah sembarangan, kami sarankan tidak boleh berkata kotor, dan dilarang merusak alam. Kami bersama pengelola terus melakukan perbaikan rute agar jalur pendakian aman bagi semua,” ujarnya.
Selain melarang pendakian secara solo, pengelola juga mengingatkan pentingnya perencanaan logistik. Warung warga masih dapat dijumpai hingga Pos 5 atau kawasan Petilasan Abiyoso. Di lokasi tersebut tersedia sumber air yang biasa dimanfaatkan pendaki untuk mengisi kembali persediaan air minum. Setelah melewati Pos 5 menuju Puncak 29 maupun Natas Angin, tidak terdapat lagi sumber air sehingga setiap pendaki disarankan memastikan kebutuhan air telah terpenuhi sebelum melanjutkan perjalanan.
Sports Tourism Tumbuh Bersama Kesadaran Pendaki

Trekking di Pegunungan Muria memperlihatkan bagaimana aktivitas olahraga dan wisata alam dapat berjalan beriringan. Jalur yang dapat diakses pendaki pemula memberi kesempatan lebih banyak masyarakat mengenal olahraga luar ruang, sementara karakter medannya tetap menghadirkan tantangan bagi mereka yang ingin menguji kemampuan fisik.
Pemilihan waktu pendakian juga menjadi bagian dari keselamatan perjalanan. Musim kemarau umumnya menghadirkan jalur yang lebih kering sehingga lebih nyaman dilalui dibandingkan musim hujan yang membuat trek menjadi licin. Meski demikian, perubahan cuaca di kawasan pegunungan dapat terjadi sewaktu-waktu sehingga pendaki tetap perlu memantau kondisi cuaca sebelum memulai perjalanan.
Namun, berkembangnya sports tourism tidak hanya bergantung pada keindahan alam atau kualitas jalur pendakian. Kesadaran setiap pendaki untuk mematuhi aturan, menjaga kebersihan, menghormati lingkungan, serta mengutamakan keselamatan menjadi bagian penting agar kawasan ini tetap dapat dinikmati dalam jangka panjang.
Ketika setiap perjalanan diakhiri dengan membawa turun kembali sampah, mengikuti arahan pemandu, dan menghargai alam yang dilintasi, maka jalur-jalur di Pegunungan Muria tidak hanya menjadi ruang berolahraga, tetapi juga menjadi tempat belajar tentang tanggung jawab. Dari langkah pertama menuju Puncak 29 hingga tanjakan Natas Angin, pengalaman yang dibawa pulang bukan hanya foto dari puncak, melainkan juga kesadaran bahwa alam tetap lestari ketika setiap pendaki ikut menjaganya. (JMY/ITN/mainkekudus)