

Berburu Sarapan di Sekitar Spot Olahraga Kudus
KUDUS – Pagi di Kudus selalu bergerak dalam irama yang khas. Ketika matahari baru menghangatkan lintasan di Alun-Alun Simpang Tujuh, Balai Jagong, GOR Wergu, Oasis Djarum Park, hingga Taman Ganesha, langkah-langkah pelari perlahan melambat. Keringat mulai mengering, napas kembali teratur, tetapi aktivitas belum benar-benar selesai. Ada satu kebiasaan yang seolah menjadi penutup wajib setelah berolahraga: mencari sarapan.
Tradisi itu membuat pagi di Kota Kretek memiliki denyut yang berbeda. Orang-orang datang untuk berlari, berjalan santai, atau mengikuti senam bersama, lalu menyebar ke warung dan kedai yang berada tak jauh dari ruang-ruang publik tersebut. Semangkuk soto kerbau, sepiring nasi pindang, roti panggang, hingga nasi lemak menjadi bagian dari pengalaman yang melengkapi olahraga pagi.
Di tengah berkembangnya sport tourism di Kudus, kuliner ikut tumbuh bersama. Bukan sekadar menyediakan makanan untuk mengembalikan tenaga, tetapi juga menghadirkan alasan bagi masyarakat maupun tamu luar daerah untuk menikmati pagi lebih lama.
Kedai Papi di Balai Jagong

Balai Jagong menjadi salah satu contoh bagaimana ruang olahraga dan kuliner saling menghidupkan. Sejak pagi, lintasan jogging dipenuhi warga dari berbagai usia. Tak lama setelah olahraga usai, sebagian besar berjalan menuju deretan warung dan kedai yang berada di sekitarnya.
Salah satu yang ramai disinggahi adalah Kedai Papi. Berbeda dari warung sarapan pada umumnya, tempat ini menawarkan menu yang identik dengan sajian hotel, namun dengan harga yang tetap terjangkau.

Pemilik Kedai Papi, Choironi yang akrab disapa Papi, mengatakan usahanya telah berjalan sekitar empat tahun. Ide menghadirkan menu bergaya hotel muncul dari keinginannya agar masyarakat dapat menikmati pilihan sarapan yang berbeda tanpa harus datang ke hotel.
“Menu kami ada omelet, potato wedges, roti bakar, salad, chicken steak, sampai paket lengkap ala hotel. Yang paling banyak dipesan itu paket komplit karena isinya lengkap dan mengenyangkan,” katanya.

Kedai mulai melayani pelanggan sejak pukul 06.00 WIB hingga sekitar pukul 11.00 WIB. Harga setiap menu berkisar antara Rp 13 ribu hingga Rp 24 ribu.
Menurut Papi, akhir pekan menjadi waktu tersibuk. Kehadiran pelari pagi, keluarga, hingga wisatawan membuat jumlah pengunjung meningkat dibanding hari biasa.
“Kalau Jumat sampai Minggu pengunjung bisa naik sampai 50 persen dibanding hari biasa. Banyak yang habis olahraga langsung sarapan di sini,” ujarnya.
Bagi Anna, salah seorang pelanggan, kebiasaan itu sudah menjadi rutinitas setiap kali berolahraga di Balai Jagong.

“Harganya terjangkau, makanannya sehat, ada salad, toast, dan menu lainnya. Tempat ini juga ramai direkomendasikan di media sosial. Biasanya setelah jalan pagi atau jogging saya sarapan di sini sebelum pulang,” tuturnya.

Menurutnya, Balai Jagong menawarkan kombinasi yang lengkap. Selain memiliki lintasan jogging dan area senam, kawasan tersebut juga menyediakan banyak pilihan kuliner dalam satu lokasi sehingga aktivitas olahraga dapat langsung diikuti dengan sarapan.
Menu Khas di Warung Makan Bu Noor Simpang Tujuh
Tak jauh dari Alun-Alun Simpang Tujuh, Warung Makan Bu Noor memperlihatkan sisi lain dari tradisi sarapan pagi di Kudus. Berdiri sejak era 1960-an, warung ini tetap mempertahankan menu khas yang telah diwariskan lintas generasi.

Puji, generasi penerus pengelola warung, mengatakan soto kerbau masih menjadi menu yang paling banyak dicari. Selain itu tersedia pula gudeg dan nasi pindang kerbau dengan harga Rp 20 ribu per porsi.
“Biasanya yang datang habis lari pagi atau Car Free Day. Banyak juga atlet badminton dan tamu dari luar kota yang sengaja sarapan di sini. Paling ramai sekitar pukul 08.00 sampai 09.00, terutama saat akhir pekan,” katanya.
Lokasinya di kawasan Taman Bojana membuat warung tersebut mudah dijangkau setelah masyarakat selesai berolahraga di sekitar Alun-Alun Simpang Tujuh.
Robby, warga asal Pati yang bekerja di Kudus, mengaku hampir setiap Minggu datang ke warung tersebut setelah berlari.

“Yang saya suka kuahnya segar dan daging kerbaunya gurih. Di Pati banyak makanan bersantan, sedangkan di Kudus rasanya berbeda, lebih ringan tetapi tetap nikmat. Harganya juga terjangkau,” ujarnya.
Warung ini menunjukkan bahwa menu tradisional tetap memiliki tempat di tengah perubahan gaya hidup masyarakat. Seusai berolahraga, banyak orang justru memilih menikmati sajian yang telah lama menjadi bagian dari identitas kuliner Kudus.
Suasana Outdoor Kedai Mbak Sekar di Sekitar Oasis

Jika kawasan Alun-Alun Simpang Tujuh identik dengan kuliner legendaris, kawasan Oasis Djarum Park menghadirkan pilihan yang berbeda.
Sekitar tiga hingga empat menit dari kawasan olahraga tersebut berdiri Kedai Mba Sekar di belakang Balai Desa Purworejo, Kecamatan Bae. Rumah makan ini mengusung konsep Melayu dengan suasana terbuka yang dikelilingi pepohonan.

Pemiliknya, Elena Sekar Rahayu atau Mba Sekar, mengatakan usaha tersebut mulai beroperasi sejak Ramadan tahun ini. Bersama suaminya yang merupakan warga asli Kudus, ia ingin menghadirkan pilihan menu yang belum banyak ditemukan di Kota Kretek.
“Saya memang tinggal di Jogja, tetapi suami asli Kudus, jadi kami bolak-balik Jogja-Kudus untuk mengelola usaha ini. Kami ingin memperkenalkan rumah makan Melayu sebagai pilihan baru. Selama ini masyarakat Kudus sudah akrab dengan menu sarapan seperti lentog atau sayur lodeh, sehingga kami ingin menghadirkan sesuatu yang berbeda sebagai penyegar,” katanya.

Pada hari kerja, kedai mulai buka pukul 09.00 WIB. Sementara pada Sabtu dan Minggu, operasional dimulai sejak pukul 07.00 WIB agar dapat melayani pengunjung yang baru selesai berolahraga.
Menu yang paling banyak diminati antara lain nasi ayam Hainan, nasi lemak ayam kipas, nasi lemak telur Barendo, serta kwetiau goreng khas Melayu. Harga makanan berkisar antara Rp 16 ribu hingga Rp 28 ribu, sedangkan aneka kudapan dan minuman dijual mulai Rp 12 ribu.

Selain pilihan menu, suasana menjadi daya tarik tersendiri. Pengunjung dapat menikmati makanan di atas tikar maupun meja kecil di bawah rindangnya pepohonan.

“Kami ingin menghadirkan tempat makan yang nyaman untuk keluarga. Orang-orang bisa menikmati suasana alam sambil bersantai dan quality time bersama. Akhir pekan biasanya paling ramai karena banyak keluarga maupun komunitas yang datang setelah berolahraga,” jelasnya.
Tika, warga Kudus, mengetahui tempat tersebut melalui media sosial sebelum akhirnya datang seusai jogging di Oasis Djarum Park.

“Barusan selesai jogging di Oasis, lalu mampir ke sini karena mendapat rekomendasi dari Threads. Saya pesan nasi lemak telur Barendo dan teh tarik. Ternyata nasi lemaknya gurih, bumbunya medok, telurnya masih renyah, dan teh tariknya juga enak. Tempatnya juga asri, banyak pepohonan sehingga terasa sejuk,” katanya.
Hal serupa dirasakan Zaida Hanifah, warga Loram, Kudus. Ia sengaja datang bersama sepupunya untuk menikmati suasana sarapan yang berbeda.

“Saya sering melihat tempat ini muncul di media sosial dengan konsep sarapan berlatar suasana alam. Yang menarik menurut saya, menu Melayu seperti nasi lemak masih jarang ditemukan di Kudus. Jadi selain bisa menikmati makanannya, suasananya juga cocok untuk bersantai bersama keluarga,” ujarnya.
Warung Soto Sutriyono Balai Jagong
Kembali ke kawasan Balai Jagong, warung soto milik Sutriyono juga menjadi tujuan banyak pengunjung setelah berolahraga. Hampir tiga dekade ia meneruskan usaha keluarga dengan mempertahankan resep yang diwariskan ayahnya.
Pilihan menunya meliputi soto ayam, soto kerbau, pindang ayam, hingga sate kerbau. Harga soto mulai Rp 15 ribu, soto kerbau Rp 21 ribu, dan sate kerbau Rp 44 ribu per porsi.

“Kalau ada kegiatan lari atau event olahraga banyak yang mampir. Weekend biasanya paling ramai saat pagi untuk sarapan, sedangkan hari biasa ramai saat jam makan siang,” katanya.
Menurut Sutriyono, aktivitas olahraga di Balai Jagong memberi pengaruh terhadap warung-warung di sekitarnya. Tidak sedikit pengunjung dari luar daerah yang memanfaatkan waktu setelah berolahraga untuk mencicipi kuliner khas Kudus.
Pagi yang Menyatukan Aktivitas dan Cita Rasa
Di berbagai sudut Kudus, olahraga dan kuliner berjalan berdampingan. Ruang publik menghadirkan tempat bagi masyarakat untuk bergerak, sementara warung dan kedai di sekitarnya menjadi lokasi untuk beristirahat, berbincang, sekaligus menikmati hidangan.
Setiap kawasan memiliki karakter yang berbeda. Balai Jagong menawarkan perpaduan menu modern dan kuliner tradisional dalam satu area. Alun-Alun Simpang Tujuh mempertahankan daya tarik warung-warung legendaris yang telah melayani pelanggan selama puluhan tahun. Sementara kawasan Oasis Djarum Park menghadirkan pilihan menu baru dengan suasana alam yang tenang.
Keberagaman itu membuat pengalaman berolahraga di Kudus tidak berhenti ketika langkah terakhir selesai di lintasan. Aktivitas fisik berlanjut menjadi perjalanan menikmati rasa, mempertemukan warga lokal, atlet, komunitas lari, wisatawan, hingga keluarga dalam suasana yang sama.
Pada akhirnya, sarapan bukan sekadar pelengkap setelah berolahraga. Di Kota Kretek, semangkuk soto kerbau, sepiring nasi lemak, atau paket sarapan sederhana menjadi bagian dari cerita pagi yang terus berulang. Dari ruang olahraga menuju meja makan, masyarakat menikmati satu pengalaman yang utuh bergerak, beristirahat, lalu mengenal Kudus melalui cita rasa yang tumbuh di sekelilingnya. (JMY/mainkekudus)